Showing posts with label Archeology. Show all posts
Showing posts with label Archeology. Show all posts

Patung Manusia Tertua Punya Payudara Menonjol


BERLIN, KOMPAS.com - Sebuah ukiran gading berbentuk perempuan gendut yang ditemukan di Gua Hohle Fels, Jerman ini punya keunikan. Selain sosoknya yang mengundang perhatian, patung tersebut umurnya sudah sangat tua. Apalagi dibuat dari gading mammoth.

"Ini merupakan ukiran berbentuk sosok manusia yang paling tua di dunia," ujar Jill Cook, seorang kurator paleolitikum dan mesolitikum di British Museum, London. Berdasarkan pengukuran karbon, usianya diperkirakan 35.000 tahun.

Patung-patung baru di Israel dan Afrika sebenarnya ada dua kali lebih tua daripada patung ukiran ini. Namun, bukan hasil pahatan melainkan kumpulan batu yang membentuk sosok manusia.

Saat ditemukan, ukiran gading tersebut telah pecah dalam enam bagian. Hasil rekonstruksi menunjukkan sosok tubuh perempuan tanpa kepala, dengan perut berlemak, payudara menonjol, dan paha besar. Bagian lengannya kirinya hilang.

"Ini sangat berkaitan dengan hal berbau seksual," ujar Nicholas Conard, arkeolog dari Universitas Tuebingen. Menurutnya adanya ukiran berbentuk tubuh manusia ini menunjukkan bahwa manusia sejak lama sudah punya kemampuan menyimbolkan tubuhnya dalam bentuk benda.

Patung ukiran gading ini hanya setinggi 6 centimeter. Conard menduga ukiran tersebut digantung di ujung tali. Namun, fungsinya buat apa tak diketahui pasti meski diperkirakan pembuatnya terobsesi dengan seks.

Secara umum, ukiran ini mirip patung-patung disebut para arkeolog sebagai figur Venus yang khas tanpa kepala dan kaki. Sekitar 150 figur Venus ditemukan antara Pegunungan Pyrenees hingga Russia bagian selatan dan berumur antara 25.000-29.000 tahun.

WAH 
Sumber : AP

Read More >>> ...

Pekuburan Dinosaurus Ditemukan di Utara Utah

LOS ANGELES, SABTU- Beberapa peneliti AS telah menemukan "kompleks kuburan dinosaurus" di bagian tenggara Utah. Di lokasi itu tersimpan bekas jejak dan fosil hewan dari era Jurassic dan Cretaceous itu.

Laporan Los Angeles Times, Jumat (17/10) kemarin menyebutkan, inti temuan baru tersebut adalah kerangka sauropod yang berusia 150 juta tahun dan terpelihara dengan baik pemakan tumbuhan berleher panjang itu.

Para peneliti sejauh ini baru mengeluarkan fosil kerangka, yang mereka perkirakan berukuran panjang 50 kaki. "Itu besar dan perlu waktu lama," kata ahli paleontogi Luis Chiappe, Direktur Dinosaur Institute and the Natural History Museum of Los Angeles County.

Kerangka tersebut ditemukan di bekas palung sungai besar yang kini menjadi lapisan permukaan karang terpajan yang berwarna gelap. Di dekat bekas palung itu terdapat kerangka lain sauropod dan dinosaurus pemakan daging, termasuk tulang paha sepanjang lima kaki dari brachiosaurus.

Di punggung bukit karang, tim menemukan sangat banyak jejak kaki yang terpelihara di bebatuan, dan satu jejak dari masa Jurassic, yang berakhir sekitar 145 juta tahun lalu, kata surat kabar tersebut.

Jejak sauropod juga ditemukan di dekat jalur theropod pemakan daging dan ornithopods dari masa awal Cretaceous, yang berakhir sekitar 65 juta tahun lalu.

Chiappe mengatakan, yang paling mengejutkan ialah jejak tiga-jari stegosaurus Eropa, yang diberi nama Deltapodus. "Jejak Deltapodus tak pernah ditemukan di Amerika Utara," katanya.

Chiappe dan stafnya menduga akan menghabiskan sedikitnya satu dasawarsa lagi untuk menggali tempat tersebut.

Sumber : Ant

Read More >>> ...

Biji Berusia 2000 Tahun Masih Bisa Tumbuh



WASHINGTON, JUMAT - Sekilas, palem setinggi 1,2 meter yang berusia tiga tahun ini tak begitu istimewa. Namun, tumbuhan yang disebut Methuselah tersebut sangat bernilai karena tumbuh dari sebuah biji berusia 2000 tahun.
Tumbuhan tersebut mungkin memecahkan rekor sebagai tumbuhan yang berasal dari biji tertua di dunia. Sebab, tumbuhan dan biji tertua selama ini dipegang sebuah tumbuhan teratai yang berasal dari biji berusia 1300 tahun.
Tunasnya pertama kali muncul tahun 2005 dari biji yang ditemukan di Israel tepatnya situs Masada yang dikenal sebagai lokasi pelarian orang-orang Yahudi yang memilih bunuh diri daripada ditangkap tentara Romawi. Umur 2000 tahun diketahui dari hasil pengukuran radiokarbon.
Sallon, direktur Pusat Riset Kedokteran Alami Louis L Borick di Organisasi Kedokteran Hadassah Israel melaporkan perkembangan terakhir tumbuhan langka tersebut dalam jurnal Scinece edisi terbaru. Para peneliti tengah berupaya menguak informasi sebanya mungkin mengenai tumbuhan tersebut termasuk potensi khasiatnya.
"Salah satu tujuan proyek penelitian kami adalah menguak kembali manfaatnya di masa lalu sampai menanamnya sehingga tersedia banyak pasokan," ujar Sallon. Satu hal penting yang belum diketahui tentang tumbuhan tersebut adalah jenis kelaminnya, apakah jantan atau betina. Sebab, jenis palem-paleman seperti ini biasanya baru dapat dibedakan jenis kelaminnya setelah berumur 6-7 tahun.

Meski demikian, para peneliti telah mempelajari DNA tumbuhan tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa gennya hanya mewarisi setengah gen palem modern yang masih banyak tumbuh di Israel saat ini.

Sallon mengatakan masih besar harapan untuk mempertahankan plasma nutfahnya tidak hanya untuk sebagai sumber makanan namun obat-obatan. Salah satu program yang dipimpinnya, Proyek Tanaman Obat Timur Tengah sedang bekerja keras untuk menanam tumbuhan tersebut di wilayah yang cocok.

Sumber : AP

Read More >>> ...

Jantan Tapi Feminin, Sosok Raja Akhenaten



JAKARTA, SENIN - Meski beranak banyak, Akhenaten yang pernah berkuasa di kerajaan Mesir Kuno mungkin berpenampilan feminin. Bahkan, cantik seperti wanita dengan bentuk kepala bulat lonjong dan payudara yang menonjol.
Kesimpulan tersebut disampaikan Dr. Irwin Braverman, fisikawan dari Universitas Yale setelah menganalisis lukisan dan patung Akhenaten. Hasil penelitiannya itu dipresentasikan dalam konferensi tahunan di Sekolah Kedokteran Universitas Maryland, AS.
Menurutnya, penampilan yang menyerupai perempuan ini disebabkan mutasi genetika sehingga tubuh Raja Akhenaten kekurangan hormon-hormon laki-laki. Akhenaten memiliki pinggul yang lebar, dada besar, namun ia tetap subur bahkan sampai menurunkan enam orang anak. Raja yang dikenal sebagai peletak revolusi monteisme dalam perdaban Mesir Kuno sekitar 1300 sebelum Masehi tersebut menikah dengan Nefertiti dan Tutankhamun atau Raja Tut mungkin anaknya.
"Bagaimanapun, ia berpenampilan fisik layaknya seorang wanita," ujar Braverman. Ia sangat yakin dengan hal tersebut karena berpengalaman menilai kesehatan seseorang berdasarkan foto dan mengajar ilmu pengenalan fisik kepada mahasiswa kedokteran tingkat pertama.
Kelainan genetika yang mungkin dialami Akhenaten mungkin kompleks. Antara lain sindrom Marfan yang menyebabkan seseorang mengalami pemanjangan anggota tubuh, seperti pada jari tangan dan muka. Kemungkinan lainnya sindrom Froechlich yang membuat penderitanya mengalami distribusi lemak seperti wanita. Penyebab lainnya mungki sindrom Kinefelter yang merupakan biang pembesaran payudara pada laki-laki
Namun, sindrom-sindrom tersebut biasanya diikuti dengan perubahan kesuburan yang ternyata tak terjadi pada Akhenaten. Braverman berpendapat, Ahenaten mungkin menderita gynecomastia. Penyakit turunan ini menyebabkan kondisi tubuh seseorang memproduksi estrogen terlalu banyak. Untuk membuktikannya, satu-satunya cara mungkin dengan membedah mumi Akhenaten dan melakukan analisis DNA.

Read More >>> ...

Ditemukan Arca Ratu Mesir Kuno Berukuran Raksasa



KAIRO, SELASA - Sebuah arca raksasa yang menggambarkan sosok seorang wanita baru saja ditemukan dari puing-puing kuil Raja Amenhotep III. Arca yang masih utuh diyakini sebagai sosok Ratu Tiye, salah satu istri kesayangan raja Mesir Kuno yang berkuasa antara 1390-1350 sebelum Masehi itu.
Arca setinggi 3,6 meter itu ditemukan para arkeolog dari Mesir dan Eropa di bagian reruntuhan kaki arca lebih besar yang menggambarkan sosok Amenhotep III. Lokasi ditemukannya arca tersebut merupakan kompleks arkeologi yang luas dengan panjang hingga 700 meter. Arca paling terkenal dari situs ini adalah Kolosi Memnon, sosok Raja Amenhotep III setinggi 21 meter yang menjulang di pintu gerbang kuil sebelum hancur karena gempa di abad pertama.
"Yang mengejutkan, ia tidak rusak," ujar Hourig Sourouzina, arkeolog yang memimpin penggalian di situs tersebut sejak tahun 2000. "Kaki arca (Memnon) rusak berat sehingga mengejutkan melihat ratunya berada di antaranya dengan kondisi utuh-ia sangat cantik."
Selain arca tersebut, para arkeolog juga menemukan sepuluh arca dari batu granit lainnya, sepuluh arca Sekhmet atau dewi kesejahteraan dan pengobatan yang berkepala singa, serta dua sphinx (patung berkepala manusia dan berbadan singa) yang menggambarkan Amenhotep III bersama Ratu Tiye. Penggalian ini adalah bagian dari proyek rehabilitasi kompleks kuil kuno yang sebelumnya diketahui memiliki enam patung raksasa Amenhotep III.
Kompleks yang megah dan patung-patung raksasa menggambarkan bahwa Mesir pada saat kekuasaan Amenhotep III sangat makmur. Arca tersebut juga menunjukkan bahwa wanita juga menempati posisi yang penting di kerajaan. Namun, di akhir hayatnya, raja yang berkuasa puluhan tahun itu mungkin sakit-sakitan sehingga harus menghadirkan dewi pengobatan.(NG/WAH)

Read More >>> ...

Fosil Burung Tua Ditemukan di Cina



Meski usianya tak setua Archaeopteryx, yang diyakini sebagai spesies burung tertua di dunia saat ini, fosil baru yang ditemukan di China ditemukan dalam kondisi utuh. Struktur tubuhnya mungkin memberikan petunjuk baru bagi para ilmuwan untuk mempelajari sejarah kehidupan burung dari zaman dinosaurus hingga burung modern.

Fosil tersebut ditemukan para paelontolog China dan Inggris dari tepian danau di sekitar hutan bagian utara Provinsi Hebei selama ekspedisi tahun 2005-2006. Para ilmuwan memberi nama Eoconfuciusornis zhengi yang berarti burung Konfusius.

"Eoconfuciusornis menyediakan potongan baru dalam teka-teki evolusi dari Archaeopteryx menjadi burung lebih maju," ujar Zhou Zhong, salah satu penulis laporan penelitian tersebut dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Beijing.

Kondisinya fosil yang utuh mungkin karena burung tersebut tenggelam ke danau tersebut dan tertimbun endapan di dasar danau pada Era Cretaceous antara 120 juta tahun hingga 131 juta tahun. Selama jutaan tahun tertimbun, tubuhnya mengalami proses fosilisasi dan terjaga dalam endapan yang membatu.

Sosoknya sudah mirip sekali dengan burung modern dengan bentuk sayap berbulu dan susunan bulu ekor yang simetris. Warna bulunya bervariasi antara coklat dan hitam yang bisa jadi warna sebenarnya atau perubahan dari warna biru, merah, dan kuning seperti burung modern.

Karakteristiknya lebih mirip burung modern daripada Archaepteryx yang masih memiliki karakteristik fisik pada dinosaurus, seperti gigi dan tulang ekor yang panjang. Struktur tulang dan ototnya juga mendukung kemampuan manuver terbang lebih lincah. Namun, keduanya mungkin sama-sama memiliki kelemahan terbang dari permukaan tanah yang rata sehingga mudah diserang lawan.

Hewan tersebut mungkin hidup di pepohonan dan memiliki kuku dan bulu ekor panjang yang penting untuk membantu menyeimbangkan tubuh saat bertengger di dahan. Ia sepertinya lihai meluncur ke permukaan danau untuk menangkap ikan sebagai mangsanya.

Read More >>> ...

Logika Pembangunan Piramida Khufu



Pernah dengar kata piramida? Yuuppp…..piramida merupakan bangun ruang berbentuk limas segiempat yang merupakan bangunan khas Mesir. Tapi pernahkah terbesit dipikiran kita tentang bagaimana Piramida itu dibuat?

Piramida Besar Khufu di Giza, Mesir dibangun untuk makam Pharaoh Khufu (Cheops), yang memerintah dari 2590 - 2567 SM. Piramida dengan tinggi 146 m, kira-kira setinggi pencakar langit bertingkat 45. Bangunan ini membutuhkan 2.300.000 batu untuk menutupi lahan seluas 5,3 ha. Stiap sisi-nya memiliki panjang 230 m. Setiap batu memiliki volume 1 kubik meter, dan berat beberapa ton. Bagaimana mungkin manusia dapat membangun struktur yang begitu besar, apalagi Peradaban Mesir kuno pada saat itu belum mengenal dengan yang namanya roda? Lalu bagaimana jika mereka menggunakan kayu gelondongan untuk mempermudah memindahkan batu-batu maha berat itu? Jawabannya tidak masuk akal. Orang-orang Mesir kuno tak akan pernah menebangi pohon yang jumlahnya hanya sedikit itu, apalagi untuk dijadikan kayu gelondongan sebagai sarana untuk mempermudah memindahkan batu. Karena pohon-pohon di sana umumnya adalah pohon kurma yang buahnya diperlukan untuk pangan, sedangkan pohon dan daunnya adalah satu-satunya peneduh untuk melindungi tanah dari kekeringan. Tetapi dari pernyataan di atas tentu mereka harus pernah memiliki kayu gelondongan, sebab jika tidak maka tidak akan didapat penjelasan teknik sekalipun yang selemah-lemahnya tentang pembangunan piramida-piramida itu. Apakah kayu untuk keperluan itu diimpornya? tentu saja tidak mungkin. Untuk mengimpor kayu diperlukan armada kapal pengangkut yang cukup besar. Setelah kayu itu dibongkar di pelabuhan Alexandria, masih perlu diangkut lagi melalui sungai Nil ke Kairo. Oleh karena Mesir pada waktu membangun piramida besar tidak mempunyai kuda dan gerobak, maka tak ada kemungkinan lain. Gerobak dan kuda tak dikenal orang di Mesir sampai dinasti ke tujuh belas kira-kira tahun 1600 sebelum masehi. Jadi masalahnya sekarang ialah penjelasan yang meyakinkan tentang pengangkutan balok batu itu. Para sarjana tentu akan mengatakan bahwa gelondongan-gelondongan kayu memang dibutuhkan. Namun belakangan ini, banyak teori yang cukup "gila" bermunculan untuk meyingkap bagaimana sebenarnya piramida besar itu dibangun. Dua teori yang cukup "nyeleneh" menurut pendapat-ku pribadi adalah pernyataan yang menyebutkan bahwa manusia raksasa-lah yang mengangkut dan menyusun batu-batu maha berat itu. Teori lainnya yang juga cukup mengejutkan adalah adanya campur tangan makhuluk asing dalam proses pembangunannya. Bagaimanapun juga, masih cukup banyak penjelasan yang lebih ilmiah untuk menjelaskan bagaimana proses pengangukatan batu-batu tersebut oleh para pekerja. Ini lebih baik daripada kita harus mempercayai mitos bahwa segerombolan Alien yang datang ke bumi, lalu dengan pesawat UFO-nya itu bergiliran mengangukut batu-batu untuk keperluan pembangunan. Atau mitos manusia raksasa setinggi antara 7- 9 meter yang berbondong-bondong datang ke Giza setelah disewa oleh Fir'aun Mesir sebagai kuli bangunan.

Tahun 1996, Stuart Kirkland Weir menulis sebuah artikel tentang pembangunan piramida dari sudut pandang energi, di dalam Cambridge Archaeological Journal. Ini adalah penelitian gerak dan waktu yang gamblang. Ia meneliti seberapa banyak energy yang dapat dikeluarkan oleh satu orang dalam sehari, dan seberapa banyak energi potensial yang ada di dalam lebih kurang tujuh juta ton batu tersebut. Energi potensial yang dimaksud adalah energi ekstra yang diperoleh sebuah benda ketika kita mengangkatnya dari tanah. Ia menemukan bahwa dalam konteks hari kerja, Piramida Besar membutuhkan sekitar 10 juta hari orang, atau 1.250 orang selama 8.400 hari atau 23 tahun. Jika anda menghitung hari libur, kecelakaan, dan masalah yang berkaitan dengan friksi, sebuah angkatan kerja yang sekitar delapan kali lebih besar (katakanlah 10.000 orang, yakni kurang dari 1% penduduk Mesir pada saat itu) dan bekerja selama seperempat abad akan memiliki waktu untuk menuntaskan pembangunan ini. Sejarawan Yunani, Herodetus, menulis bahwa kekuatan pembangunan piramida melibatkan 100.000 orang. Disisi lain, ia bisa salah karena ia menulis sekitar 2000 tahun sesudah piramida Mesir dibangun. Di sisi lain, 100.000 akan membuat pekerjaan ia lebih mudah. Dan 100.000 orang berarti 10% populasi, sehingga mengurangi pengangguran dan kerusuhan sosial.

Piramida besar tidaklah terlalu sempurna. Sisi sisinya berbeda panjang sekitar 18 cm. Piramida ini ridak tegak tetapi sedikit miring pada sudut tenggara. Para arkeolog akhirnya menemukan tambang tempat batu-batu tersebut berasal dan sisa-sisa jalan landai untuk membawa batu-batu itu ke tingkat atas piramida. Sebuah gambar di dinding makam raja dinasti ke-12, Djehutihotep, menunjukkan proses ini dalam beberapa detail. Gambar itu berupa patung raksasa Djehutihotep seberat 60 ton dan tinggi 5 meter yang ditempatkan di atas sebuah wadah besar . Ada empat baris pekerja, 172 orang menarik kuat tali-tali yang terikat pada tepi wadah tersebut. Di bagian depan wadah, ada seorang pria berdiri di atas kaki patung, menuang sejenis cairan pelumas ke bawah wadah itu agar dapat bergerak maju. Dan tentu saja, disana ada sang bos, duduk nyaman di lutut patung, mungkin member perintah kepada para pekerja di bawahnya. Kombinasi dari 60 ton dan 172 pekerja, masing-masing menarik sekitar 330 Kg. Rekontruksi modern menunjukkan bahwa jika menggunakan pelumas, adalah mudah untuk mendapatkan koefisien gesekan sebesar 0,1. Ini berarti setiap orang hanya menarik sekitar 33 kg, angka yang cukup masuk akal bukan?

Dan pada akhirnya, para arkeolog baru saja mulai menemukan sebuah kota yang mengirimkan pekerja yang membangun Piramida Besar. Mereka menemukan jalan, rumah, makam, toko roti, dan semua infrastuktur yang diperlukan untuk mendukung 20.000 penduduk yang sering berpindah. Edgar Cayce, Spiritualis terkenal Amerika yang menyebut dirinya cenayang, mengatakan bahwa piramida dibangun pada 10.500 SM oleh peradaban yang lebih maju, yang kemudian menyembunyikan rahasia mereka di dalam "Ruang Rahasia" yang tidak dapat ditemukan, dibawah kaki depan Sphinx, dan kemudian hilang. Ia mungkin benar, piramida dibangun oleh peradan yang lebih maju. Tapi bukan berarti harus dihubungkan-hubungkan dengan alien , sebab perandaban Mesir kuno itu juga bisa dibilang peradaban maju.

-Dipta-

Referensi :
*Erich Von Daniken, Chariots of the Gods
*Dr.Karl Kruszelnicky, Great Myth Conception

Read More >>> ...

HAMAN DAN BANGUNAN MESIR KUNO

Al Qur'an mengisahkan kehidupan Nabi Musa AS dengan sangat jelas. Tatkala memaparkan perselisihan dengan Fir'aun dan urusannya dengan Bani Israil, Al Qur'an menyingkap berlimpah keterangan tentang Mesir kuno. Pentingnya banyak babak bersejarah ini hanya baru-baru ini menjadi perhatian para pakar dunia. Ketika seseorang memperhatikan babak-babak bersejarah ini dengan pertimbangan, seketika akan menjadi jelas bahwa Al Qur'an, dan sumber pengetahuan yang dikandungnya, telah diwahyukan oleh Allah Yang Mahatahu dikarenakan Al Qur'an bersesuaian langsung dengan seluruh penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan, sejarah dan kepurbakalaan di masa kini.
Satu contoh pengetahuan ini dapat ditemukan dalam paparan Al Qur'an tentang Haman: seorang pelaku yang namanya disebut di dalam Al Qur'an, bersama dengan Fir'aun. Ia disebut di enam tempat berbeda dalam Al Qur'an, di mana Al Qur'an memberitahu kita bahwa ia adalah salah satu dari sekutu terdekat Fir'aun.
Anehnya, nama “Haman” tidak pernah disebutkan dalam bagian-bagian Taurat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Musa AS. Tetapi, penyebutan Haman dapat ditemukan di bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang melakukan banyak kekejaman terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa AS. Al Qur'an, yang jauh lebih bersesuaian dengan penemuan-penemuan kepurbakalaan masa kini, benar-benar memuat kata “Haman” yang merujuk pada masa hidup Nabi Musa AS.
Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap Kitab Suci Islam oleh sejumlah kalangan di luar Muslim terbantahkan tatkala naskah hiroglif dipecahkan, sekitar 200 tahun silam, dan nama “Haman” ditemukan di naskah-naskah kuno itu. Hingga abad ke-18, tulisan dan prasasti Mesir kuno tidak dapat dipahami. Bahasa Mesir kuno tersusun atas lambang-lambang dan bukan kata-kata, yakni berupa hiroglifik. Gambar-gambar ini, yang memaparkan kisah dan membukukan catatan peristiwa-peristiwa penting sebagaimana kegunaan kata di zaman modern, biasanya diukir pada batu dan banyak contoh masih terawetkan berabad-abad. Dengan tersebarnya agama Nasrani dan pengaruh budaya lainnya di abad ke-2 dan ke-3, Mesir meninggalkan kepercayaan kunonya beserta tulisan hiroglif yang berkaitan erat dengan tatanan kepercayaan yang kini telah mati itu. Contoh terakhir penggunaan tulisan hiroglif yang diketahui adalah sebuah prasasti dari tahun 394. Bahasa gambar dan lambang telah terlupakan, menyisakan tak seorang pun yang dapat membaca dan memahaminya. Sudah tentu hal ini menjadikan pengkajian sejarah dan kepurbakalaan nyaris mustahil. Keadaan ini tidak berubah hingga sekitar 2 abad silam.
Pada tahun 1799, kegembiraan besar terjadi di kalangan sejarawan dan pakar lainnya, rahasia hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu Rosetta.” Penemuan mengejutkan ini berasal dari tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan tangan bersambung Mesir kuno) dan Yunani. Dengan bantuan naskah Yunani, tulisan Mesir kuno diterjemahkan. Penerjemahan prasasti ini diselesaikan oleh orang Prancis bernama Jean-Françoise Champollion. Dengan demikian, sebuah bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa yang dikisahkannya terungkap. Dengan cara ini, banyak pengetahuan tentang peradaban, agama dan kehidupan masyarakat Mesir kuno menjadi tersedia bagi umat manusia dan hal ini membuka jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak tentang babak penting dalam sejarah umat manusia ini.
Melalui penerjemahan hiroglif, sebuah pengetahuan penting tersingkap: nama “Haman” benar-benar disebut dalam prasasti-prasasti Mesir. Nama ini tercantum pada sebuah tugu di Museum Hof di Wina. Tulisan yang sama ini juga menyebutkan hubungan dekat antara Haman dan Fir'aun. 1
Dalam kamus People in the New Kingdom , yang disusun berdasarkan keseluruhan kumpulan prasasti tersebut, Haman disebut sebagai “pemimpin para pekerja batu pahat”. 2
Temuan ini mengungkap kebenaran sangat penting: Berbeda dengan pernyataan keliru para penentang Al Qur'an, Haman adalah seseorang yang hidup di Mesir pada zaman Nabi Musa AS. Ia dekat dengan Fir'aun dan terlibat dalam pekerjaan membuat bangunan, persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur'an.
Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS. Al Qashas, 28:38)
Ayat dalam Al Qur'an tersebut yang mengisahkan peristiwa di mana Fir'aun meminta Haman mendirikan menara bersesuaian sempurna dengan penemuan purbakala ini. Melalui penemuan luar biasa ini, sanggahan-sanggahan tak beralasan dari para penentang Al Qur'an terbukti keliru dan tidak bernilai intelektual.
Secara menakjubkan, Al Qur'an menyampaikan kepada kita pengetahuan sejarah yang tak mungkin dimiliki atau diketahui di masa Nabi Muhammad SAW. Hiroglif tidak mampu dipecahkan hingga akhir tahun 1700-an sehingga pengetahuan tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya di masa itu dari sumber-sumber Mesir. Ketika nama “Haman” ditemukan dalam prasasti-prasasti kuno tersebut, ini menjadi bukti lagi bagi kebenaran mutlak Firman Allah.


Read More >>> ...

Catatan Fosil Membantah Evolusi

Segala sesuatu sekecil apapun di alam ini memperlihatkan adanya penciptaan yang luar biasa. Akan tetapi paham materialisme yang diwakili oleh Darwinisme, yakni teori evolusi, telah bersembunyi di balik kedok sains untuk menolak fakta penciptaan di alam. Teori yang mengatakan bahwa kehidupan berasal dari materi tak hidup melalui serangkaian peristiwa kebetulan ini sebenarnya telah diluluhlantakkan dengan pengakuan bahwa alam ini diciptakan oleh Allah. Seorang astrofisikawan Amerika, Hugh Ross mengatakan hal ini:
"Atheisme, Darwinisme, dan bahkan bisa dikatakan semua "isme-isme" yang lahir dari filsafat-filsafat abad ke-18 hingga abad ke-20 dibangun di atas sebuah asumsi, yakni asumsi yang salah, bahwa jagat raya adalah kekal dan tak hingga. Keganjilan ini telah menempatkan kita berhadap-hadapan dengan sebab - atau penyebab - di luar/di balik/di hadapan alam semesta dan segala isinya, termasuk kehidupan itu sendiri."

Kendatipun doktrin evolusi telah ada sejak jaman Yunani kuno, teori evolusi dikemukakan secara lebih mendalam di abad 19. Yang menjadikan teori tersebut sebagai bahasan terpenting dalam dunia ilmiah adalah kemunculan buku "The Origin of Species" karya Charles Darwin di tahun 1859. Dalam buku ini, Darwin mengingkari penciptaan spesies yang berbeda-beda jenis secara terpisah oleh Allah seraya mengatakan bahwa semua makhluk hidup berasal dari satu nenek moyang yang sama yang kemudian berkembang menjadi spesies-spesies yang berbeda dalam kurun waktu yang lama melalui perubahan bentuk sedikit demi sedikit.

Kalau memang demikian yang terjadi, maka seharusnya pernah terdapat sangat banyak spesies peralihan selama periode perubahan yang panjang ini. Sebagai contoh, seharusnya terdapat beberapa jenis makhluk setengah ikan-setengah reptil di masa lampau, dengan beberapa ciri reptil sebagai tambahan pada ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya terdapat beberapa jenis burung-reptil dengan beberapa ciri burung di samping ciri reptil yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk-makhluk khayalan yang mereka yakini hidup di masa lalu ini sebagai bentuk "transisi".

Jika binatang-binatang seperti ini memang pernah ada, maka seharusnya mereka muncul dalam jumlah dan variasi sampai jutaan atau milyaran. Lebih penting lagi, sisa-sisa makhluk-makhluk aneh ini seharusnya ada pada catatan fosil. Jumlah bentuk-bentuk peralihan ini pun semestinya jauh lebih besar daripada spesies binatang masa kini dan sisa-sisa mereka seharusnya diketemukan di seluruh penjuru dunia. Dalam "The Origin of Species" Darwin menjelaskan:
"Jika teori saya benar, pasti pernah terdapat jenis-jenis bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama…Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lampau hanya dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan fosil."

Teori Darwin sama sekali tidak didasarkan pada penemuan ilmiah yang nyata sebagaimana yang diakuinya, jadi ini hanya sekedar "dugaan". Di samping itu, sebagaimana yang diakui Darwin dalam satu bab panjang berjudul "Difficulties of the Theory (Kesulitan-Kesulitan Teori Ini)" dalam buku "The Origin of Species" di mana ia mengatakan:
"…Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi di manapun? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya?… Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah yang tidak terhitung?… Dan pada daerah peralihan, yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya."

Ini berarti bahwa: Allah tidak menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi!
Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk… (QS. Al-A'laa, 87:1-3)

Kebohongan Ilmiah

Allah swt telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, begitu pula berbagai jenis makhluk hidup yang ada di bumi, masing-masing diciptakan Allah dengan bentuknya yang khusus dan telah sempurna.

Namun, sepanjang sejarah hingga zaman ini, masih saja kita temui golongan yang menentang fakta ini. Mereka memunculkan teori tandingan yang tidak memiliki bukti ilmiah nyata. Dengan kedok sains, para ilmuwan ini bahkan berani terang-terangan berbohong dan mengingkari fakta penciptaan tiap-tiap jenis makhluk hidup secara khusus dan sempurna, termasuk manusia. Di bawah ini adalah sedikit dari sekian banyak kebohongan dan manipulasi ilmiah yang ada di dunia sains:
Manusia Piltdown: Fosil palsu!Manusia Piltdown: Fosil palsu yang dibuat dengan menempelkan rahang Orang Utan pada tengkorak manusia. Agar tampak kuno, fosil ini dicelup dalam larutan potasium dikromat.

Pada tahun 1912, seorang dokter terkenal yang juga ahli paleoantropologi amatir, Charles Dawson, mengklaim telah menemukan tulang rahang dan fragment tengkorak di dalam sebuah lubang di Piltdown, Inggris. Kendatipun gigi dan tengkoraknya terlihat berasal dari manusia, akan tetapi tulang rahang tersebut lebih menyerupai kera. Spesimen ini lalu dinamakan "Manusia Piltdown". Fosil yang diduga berusia 500 ribu tahun ini dipajang di beberapa museum sebagai bukti kuat terjadinya evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun, telah banyak artikel ilmiah tentang "Manusia Piltdown" ditulis, sejumlah penafsiran dan gambar dibuat, dan fosil tersebut dikemukakan sebagai bukti penting yang menunjukkan terjadinya evolusi manusia. Tidak kurang dari 500 tesis doktor mengenai subyek ini telah dihasilkan. Seorang ahli paleoantropologi asal Amerika, Henry Fairfield Osborn, ketika berkunjung ke British Museum di tahun 1935 berkomentar: "…kita harus selalu diingatkan bahwa alam dipenuhi keanehan, dan ini adalah sebuah temuan yang mengejutkan tentang manusia prasejarah…".

Pada tahun 1949, Kenneth Oakley dari departemen paleontologi British Museum mencoba melakukan "pengujian fluorin", metode baru yang digunakan untuk menentukan umur fosil-fosil kuno. Setelah pengujian fluorin dilakukan pada fosil manusia Piltdown, hasilnya sungguh mengejutkan. Ternyata tulang rahang Manusia Piltdown tidak mengandung fluorin. Ini berarti tulang rahang tersebut terkubur kurang dari beberapa tahun yang lalu. Sedangkan tengkoraknya yang hanya mengandung fluorin dalam kadar rendah menunjukkan bahwa umurnya hanya beberapa ribu tahun.

Penemuan selanjutnya mengungkapkan bahwa gigi pada tulang rahang berasal dari orang utan yang direkayasa agar tampak usang, dan bahwa peralatan-peralatan "primitif" yang ditemukan bersama fosil tersebut hanyalah imitasi sederhana yang telah diasah dengan menggunakan peralatan baja. Berdasarkan hasil penelitian terperinci yang dilakukan oleh Weiner, pemalsuan ini kemudian diumumkan tahun 1953. Tengkorak tersebut ternyata milik manusia yang hanya berusia 500 tahun, sedangkan tulang rahang pada fosil tersebut ternyata milik kera yang baru saja mati! Kemudian gigi-gigi pada fosil telah disusun berderet dan ditempatkan pada rahangnya secara khusus, dan sendinya dirancang menyerupai sendi manusia. Lalu semua bagian diwarnai dengan potasium dikromat agar tampak kuno. Warna ini memudar ketika fosil palsu tersebut dicelup dalam larutan asam. Le Gros Clark, anggota tim yang membongkar skandal penipuan ini, tidak mampu menyembunyikan rasa kagetnya atas kejadian tersebut dan berkomentar: "bukti-bukti abrasi tiruan dengan segera tampak di depan mata. Begitu gamblangnya sampai-sampai patut dipertanyakan bagaimana hal ini sampai bisa lolos dari pengamatan sebelumnya?"
Setelah skandal ini terbongkar, fosil "Manusia Piltdown" dengan segera disingkirkan dari British Museum setelah lebih dari 40 tahun dipajang.

Manusia Nebraska: Gigi Babi!Lukisan di atas dibuat hanya berdasarkan fosil satu gigi dan diterbitkan di majalah Illustrated London News edisi 24 Juli 1922. Akan tetapi, kaum evolusionis sangat kecewa ketika terungkap bahwa gigi ini ternyata bukan milik makhkluk mirip kera atau manusia, tetapi berasal dari spesies babi yang telah punah.

Di tahun 1922, Henry Fairfield Osborn, manajer American Museum of Natural History, mengumumkan telah menemukan sebuah fosil gigi geraham yang berasal dari periode Pliosin, di Nebraska Barat dekat Snake Brook. Gigi ini dinyatakan memiliki ciri gigi manusia dan gigi kera. Argumentasi ilmiah yang seru pun terjadi. Sebagian orang menafsirkan gigi ini berasal dari Pithecanthropus erectus, sedangkan sebagian yang lain menyatakan gigi tersebut lebih mirip gigi manusia. Selain diberi nama "Manusia Nebraska", fosil yang memunculkan polemik sengit ini diberi "nama ilmiah": Hesperopithecus haroldcooki.

Banyak ahli yang memberikan dukungan kepada Osborn. Berdasarkan satu gigi ini, rekonstruksi kepala dan tubuh Manusia Nebraska pun digambar. Lebih jauh, Manusia Nebraska bahkan dilukis bersama dengan istri dan anak-anaknya sebagai sebuah keluarga dengan latar belakang pemandangan alam.

Semua skenario ini dibangun berdasarkan atas fosil satu gigi saja. Evolusionis (golongan yang mempercayai teori evolusi) begitu meyakini keberadaan "manusia bayangan" ini, hingga ketika seorang peneliti bernama William Bryan menolak penafsiran yang menyimpang ini, ia dikritik dengan pedas.

Di tahun 1927, bagian lain dari kerangkanya diketemukan. Berdasarkan serpihan tulang ini, gigi tersebut ternyata bukan berasal dari kera ataupun manusia, akan tetapi milik spesies babi liar Amerika yang telah punah bernama prosthennops. William Gregory memberi judul artikelnya yang dimuat majalah Science dengan: "Hesperopithecus: Apparently Not An Ape Nor A Man (Hesperopithecus: Ternyata Bukan Kera Ataupun Manusia)". Dalam tulisan tersebut ia mengumumkan kekeliruan ini. Segera setelah kejadian itu, semua gambar Hesperopithecus haroldcooki dan "keluarganya" segera dihapus dari literatur evolusi.

Ota Benga: Bunuh Diri Karena MeranaOTA BENGA:"Orang Pigmi di Kebun Binatang"
Setelah Darwin mengklaim bahwa manusia berevolusi dari makhluk hidup mirip kera dalam bukunya The Descent of Man, ia lalu mulai mencari fosil-fosil yang mendukung argumentasinya. Sejumlah evolusionis bahkan percaya bahwa makhluk "separo manusia-separo kera" tidak hanya ditemukan dalam bentuk fosil, tetapi juga dalam keadaan masih hidup di berbagai tempat di bumi. Di awal abad 20, pencarian "mata rantai transisi yang masih hidup" ini menghasilkan sejumlah peristiwa yang mengenaskan, dan yang paling tidak berperikemanusiaan di antaranya adalah yang menimpa seorang Pigmi (suku di Afrika Tengah dengan tinggi badan rata-rata kurang dari 127 cm) bernama Ota Benga.

Ota Benga ditangkap di tahun 1904 oleh seorang peneliti evolusionis di Kongo, Afrika. Dalam bahasanya, Ota Benga berarti "teman". Ia memiliki seorang istri dan dua anak. Dengan dirantai dan ditempatkan dalam kurungan, ia dibawa ke Amerika Serikat. Di sana para ilmuwan evolusionis memamerkannya di hadapan khalayak ramai pada Pekan Raya Dunia di St. Louis bersama spesies kera lain dan memperkenalkannya sebagai "mata rantai transisi terdekat dengan manusia". Dua tahun kemudian, ia dibawa ke Kebun Binatang Bronx di New York di mana ia dipamerkan dalam kelompok "nenek moyang manusia" bersama beberapa sipanse, gorila bernama Dinah, dan orang utan bernama Dohung. Dr. William T. Hornaday, seorang evolusionis direktur kebun binatang tersebut memberikan sambutan panjang lebar tentang betapa bangganya ia mempunyai "bentuk transisi" yang luar biasa tersebut di kebun binatangnya dan memperlakukan Ota Benga dalam kandang bak seekor binatang. Setelah tidak tahan dengan perlakuan ini, Ota Benga akhirnya bunuh diri.

Sumber : www.harunyahya.com

Read More >>> ...